Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

  • Home
  • Post
  • PENDIDIKAN PONDOK
PENDIDIKAN PONDOK
04 Mar

PENDIDIKAN PONDOK

Ajaran atau didikan yang utama di dalam pondok pesantren ialah (الْاِعْتِمَادُ عَلَى النَّفْسِ), dalam bahasa Belanda Zelp Help, tidak mengantungkan diri kepada orang lain. Dengan kata-kata lain, belajar mencukupi atau menolong diri sendiri.


Seorang yang dapat menolong diri sendiri akan mampu menghadapi masa depan dengan penuh harapan, jalan hidup terbentang luas di mukanya. Dia akan selalu optimis dalam menghadapi hidup ini, dan selalu tertanamkan keyakinan dalam dirinya terlebih lagi kepercayaan kepada Allah bahwa bila kita melakukan kebenaran, kebaikan, pastilah Allah akan menolong. Sebaliknya, pemuda yang tidak percaya kepada dirinya, dia senantiasa was-was dan ragu-ragu, serta tidak akan mendapat kepercayaan dari masyarakat, sedang dia sendiri tidak percaya kepada dirinya.


Pondok adalah tempat berlatih agar menjadi orang yang suka pandai menolong, bukan yang hanya selalu minta tolong. Bagaimana menjadi seorang yang selalu ingin memberi bukan yang selalu ingin mengambil. How to give, Not how to take. Bergerak menggerakkan, berjuang memperjuangkan.


Maka dari itu di sini dilatih mengurus diri sendiri, pegang keuangan sendiri, cuci sendiri, tanggung jawab kamar dan alat-alat sendiri. Jika melakukan kesalahan, maka menjadi tanggung jawab sendiri. Demikian pula dengan amal perbuatan kita di dunia ini, memiliki konsekuensi masing-masing. Dan masing-masing dari kita harus bisa bertanggung jawab atas diri kita sendiri di hadapan Allah SWT kelak.


Selain dari itu, pondok juga berisi pendidikan kebebasan. Tetapi pondok-pondok yang dulu-dulu terlalu bebas, sehingga tidak ada pengawasan dan tidak ada peringatan. Dengan demikian, akhirnya santri-santri itu terlalu bebas.


Dengan tidak adanya pengawasan, belajarnya pun senaknya pula, sehingga waktu yang terpakai tidak seimbang dengan ilmu yang didapat. Dan memang pemuda kita belum boleh terus diberi kebebasan yang terlalu luas. Hal tersebut akan membiasakannya sebagai seorang yang pemalas, tidak berdisiplin. Bisa jadi ia memiliki pengetahuan tentang Islam, namun ia tidak memahaminya dengan baik sehingga ilmu yang dimiliki tidak mencerminkan amalnya.


Sebaliknya, internaat atau asrama di zaman jajahan, terlalu terikat, tidak bebas, sehingga segala gerak-geriknya harus menanti perintah. Makannya menanti perintah, mandinya menanti perintah. Sehingga dirinya layaknya sebuah robot yang baru mau bergerak jika digerakkan dengan remot kontrol.


Sekeluarnya dari sekolah itu, ia akan menjadi pegawai atau alat yang mati, tidak dinamis, tidak ada inisiatif. Jiwanya tidak hidup, tidak ada semangat, hanya selalu menjadi alat orang lain, tidak bekerja kalau tidak ada perintah. Hidupnya hanya sekedar untuk hidup. Hanya sekedar untuk bisa makan.


Pondok Pesantren Al-Ikhlas dibuat pertengahan, tidak terlalu bebas dan tidak terlalu sempit. Jadi para siswa masih mendapatkan kebebasan seluas mungkin, dalam batas-batas yang tidak membahayakan pendidikan dan ada disiplin antara para siswa sendiri, yang dijalankan dengan penuh kesadaran, dan tidak ada paksaan. Hal tersebut sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang memerintahkan kita sebagai ummatan wasatan (ummat pertengahan).

Tag: