Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

  • Home
  • Post
  • PANCA JIWA PONDOK
PANCA JIWA PONDOK
15 Dec

PANCA JIWA PONDOK

Kehidupan dalam pondok pesantren dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat kita simpulkan dalam PANCA JIWA, yaitu: Jiwa Keikhlasan, Jiwa Kesederhanaan, Jiwa Kemandirian, Jiwa Ukhuwah Diniyyah, dan Jiwa Kebebasan.


Bagaikan nominal angka, kelima Jiwa di atas memiliki nominal atau harga masing-masing yang saling menambah atau mengurangi. Jiwa yang pertama diibaratkan sebagai nominal angka satu hingga Sembilan (1-9) sesuai dengan kualitas keikhlasannya, jiwa yang kedua diibaratkan nominal angka nol di belakang angka satu (1.0), dapat meningkat menjadi nominal 1-9, setelah digandengkan dengan angka sebelumnya tergantung kualitas dari kesederhanaannya, dan demikian selanjutnya jiwa yang lain diibaratkan dengan angka nol yang ditambahkan selanjutnya. Dengan kata lain, keempat jiwa yang kedua hingga kelima, tidak akan berharga tanpa jiwa yang pertama. Semakin tinggi kualitas keikhlasan seseorang maka semakin tinggi harga/nilai/nominal angka dari seseorang. Semakin tinggi kualitas lima Jiwa tersebut, maka semakin tinggi kualitas (harga/nilai/nominal) seseorang.

Berikut penjelasan singkat tentang kelima Jiwa tersebut:


  1. JIWA KEIKHLASAN

Makna ikhlas, bila dicari akar katanya, berasal dari akhlasa-yukhlisu-ikhlāsan yang berarti bersih, suci, murni, tidak ada campurannya, atau cocok dan pantas. Menurut istilahnya, ikhlas berarti menghadirkan niat hanya karena Allah dengan upaya kuat dan sungguh-sungguh dalam berfikir, bekerja dan berbuat untuk kemajuan usahanya dengan selalu mengharap ridhaNya.

Allah berfirman dalam al-Qur’an:


وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ ) البيّنة: 5)

Artinya: “Padahal meeka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Qs. Al-Bayyinah: 5)


Ayat di atas menjelaskan bahwa keikhlasan adalah faktor terpenting dalam menentukan keberhasilan dalam setiap usaha atau perjuangan khusus ibadah. Dia tidak saja merupakan prasyarat diterimanya atau tidaknya amal perbuatan manusia, tapi ia juga menjadi syarat mutlak bagi kemajuan dan perkembangan usaha apapun, terlebih dalam proses pendidikan kaderisasi pemimpin ummat seperti di Al-Ikhlas ini.

Ikhlas yang dimaksudkan di sini adalah ikhlas aktif yang diwujudkan dengan berbagai gerakan dan kegiatan dalam kehidupan kita, ikhlas yang dimotivasi dengan penuh kesungguhan; berkemauan keras, bekerja keras, berfikir keras, bersabar keras, dan berdo’a keras. Inilah ikhlas sesungguhnya. Ikhlas yang dinamis dan produktif. Ikhlas yang melahirkan cita-cita besar dan karya-karya yang bermanfaat untuk masyarakat, agama dan ummat.

Segenap suasana kehidupan di pondok pesantren harus diliputi dengan jiwa keikhlasan. Tidak karena didorong oleh keinginanan memperoleh keuntungan tertentu. Semuanya dilakukan semata-mata karena untuk IBADAH. Kyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam belajar, pembantu pondok ikhlas dalam membantu. Segala gerak-gerik dalam Pondok Pesantren berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam.

Dengan demikian, terdapatlah suasana hidup yang harmonis antara KIYAI YANG DISEGANI dan SANTRI YANG TAAT dan penuh cinta serta hormat dengan segala keikhlasannya. Dengan demikian, maka seorang santri atau setiap santri mengerti dan menyadari arti LILLAH, arti BERAMAL, arti TAKWA dan arti IKHLAS.

Sekiranya suasana keikhlasan ini terganggu atau goncang, lebih lagi jika tidak ada, niscaya tidak akan mungkin maksud yang baik akan tercapai, lebih-lebih dalam masyarakat pendidikan seperti Pondok Pesantren Al-Ikhlas ini.

Contoh dari penanaman jiwa keikhlasan yang sederhana, dalam mendidik santri, kyai ikhlas tidak dibayar. Bahkan sampai sekarang di Al-Ikhlas Taliwang tidak ada sistem gaji untuk guru. Istilah yang digunakan ialah “kesejahteraan keluarga”. Kalau sekiranya segala gerak langkah di pondok ini harus dibayar, diberi atau dibalas dengan jasa atau upah, niscaya tidak akan terbeli meskipun dengan ratusan juta rupiah.

Segala langkah pengasuh, guru-guru, pembantu-pembantu, petugas-petugas, pimpinan dalam pondok, dalam kelas, dalam olahraga, dalam kepramukaan dan lain sebagainya, Alhamdulillah telah berjalan dengan tidak bersangkutan benda atau material sama sekali. Semuanya hanya berdasarkan keikhlasan untuk kemajuan bersama. Tidak ada buruh, tidak ada majikan; guru-guru, santri-santri di sini bukan buruh, dan tidak ada yang dengan perjanjian sebagai buruh.

Dalam hal ini, tidak berarti bahwa yang berkorban itu pasti akan melarat dan harus melarat, tidak. Seandainya tenaga-tenaga itu harus dibeli dan dapat dibeli, kami tidak yakin pula ia akan membuahkan hasil sebagaimana pengorbanan yang tiada terbeli ini. Keikhlasan, kejujuran, rasa tanggung jawab, rasa mau berkorban, tidak akan dapat dibeli.




  1. JIWA KESEDERHANAAN

Kehidupan di dalam pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam kesederhanaan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan, dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup tumbuhnya mental/karakter yang kuat yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan.

Itulah sebabnya maka kita semua di pondok ini, dididik untuk hidup sederhana. Sederhana dalam berpakaian, potongan rambut, makan, tidur, berbicara, bersikap, dan bahkan berpikir. Pola hidup sederhana ini menjadikan suasana hidup di Al-Ikhlas tergolong egaliter (bersifat sama, sederajat), tidak terlihat perbedaan antara santri yang kaya dan miskin. Hal ini juga membuat santri yang kurang mampu tidak minder dan santri yang kaya tidak sombong. Akan tetapi pada hakekatnya, kesederhanaan tidaklah kaku. Ukuran kesederhanaan di Al-Ikhlas diatur dalam kerangka manajemennya, yakni menggunakan sesuatu yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan dengan pertimbangan efisiensi dan efektifitas. Misalnya, pembangunan gedung-gedung yang bertingkat, masjid dan balai pertemuan yang luas bukan untuk tujuan unjuk gigi, melainkan memang sudah saatnya dibangun, yakni sesuai dengan kebutuhan pendidikan dan pengajaran.

Mari kita biasakan hidup sederhana, niscaya kita akan hidup bahagia, dan dapat menghadapi masa depan dengan kepala tegak, dan tidak ada rasa cemas atau takut.


  1. JIWA KESANGGUPAN MENOLONG DIRI SENDIRI (ZELP HELP) atau BERDIKARI (Berdiri di atas kaki sendiri)

Didikan inilah yang merupakan senjata hidup ampuh. Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri ini tidak saja dalam arti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai institusi. Pribadi yang berdikari berarti pribadi yang selalu belajar dan melatih dirinya untuk mengurus kepentingannya tanpa harus terus menerus bergantung pada kebaikan dan belas kasihan orang lain. Begitupun pondok yang berdikari. Ia mampu bertahan di atas kemampuannya dan berusaha untuk tidak selalu mengandalkan uluran bantuan pihak lain. Namun demikian, sikap ini bukan berarti membuat Al-Ikhlas menjadi pondok yang kaku sehingga menolak orang-orang yang memang sungguh-sungguh ingin membantu pengembangan pesantren, hanya saja bantuan tersebut tidak boleh bersifat mengikat.

Dalam kehidupan keseharian, santri dididik untuk mengurus segala keperluannya secara mandiri; mengurus toko mini, kantin, dapur, keuangan, kesektariatan, asrama, olahraga, kursus-kursus. Pendek kata, semuanya dilakukan sendiri oleh santri (self governance). Kebersihan kampus juga menjadi tanggung jawab santri sendiri; setiap hari ada yang menjadi piket dari santri yang membersihkan kamar, asrama, depan asrama, kamar mandi, kelas, masjid aula, halaman pondok dan sebagainya. Demikian pula dengan keamanan barang masing-masing dan keamanan pondok diurusi oleh santri. Setiap siang dan malam ada yang menjadi piket rayon, piket gerbang, dan piket malam.


  1. JIWA UKHUWAH ISLAMIYAH

Jiwa persaudaraan ini menjadi dasar interaksi antara santri, kyai, dan guru, dalam sistem kehidupan kampus Al-Ikhlas Taliwang. Dari sinilah tumbuh kerelaan untuk saling berbagi dalam suka dan duka, sehingga kesenangan dan kesedihan dirasakan bersama. Ukhuwah (persaudaraan) ini, bukan saja berlaku selama di dalam Pondok Pesantren, melainkan menjadi bagian dari kualitas pribadi yang dimiliki santri setelah tamat dari pondok dan berkiprah di masyarakat sehingga dapat mempengaruhi ke arah persatuan ummat sepulangnya dari pondok.

Dari awal berdiri, di Pondok Al-Ikhlas santri ditanamkan nilai-nilai kebersamaan dan tolong-menolong, seperti mengurusi organisasi, bermain bersama di klub olahraga, menjadi piket malam bersama, menjadi anggota kelompok latihan pidato yang sama, latihan pramuka bersama, main drama bersama, dan sebagainya. Dengan demikian akan terbentuk team spirit di kalangan santri. Interaksi antar santri dalam berbagai kegiatan selama menyelesaikan studinya di Al-Ikhlas Taliwang, tak lain adalah latihan hidup bermasyarakat. Hal inilah yang disebut sebagai learning of sociality.


  1. JIWA KEBEBASAN

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depannya, dalam memilih jalan hidup di dalam masyarakat kelak bagi para santri dengan berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi kehidupan. Kebebasan itu bahkan sampai kepada bebas dari pengaruh kebudayan asing. Bahkan kebebasan juga dapat diartikan bebas dari kemaksiatan, bebas dari kedzoliman, dst.

Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali kita temui unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal), sehingga kehilangan arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya ada pula yang terlalu berpegang teguh pada tradisi yang dianggap paling baik sendiri yang telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak mau menoleh ke arah keadaan sekitarnya dengan perubahan zamannya, dan tidak memperhitungkan masa depannya. Akhirnya tidak bebas lagi, karena mengikatkan diri kepada yang diketahui itu saja.

Maka kebebasan ini harus dikembalikan kepada aslinya, yaitu di dalam garis-garis DISIPLIN YANG POSITIF, dengan penuh tanggung jawab, baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri maupun dalam kehidupan masyarakat.

Jiwa ini terkait dengan kemandirian, karena dengan memiliki jiwa mandiri seseorang dapat bebas menentukan pilihannya. Jiwa ini diajarkan misalnya dengan contoh kebebasan pondok dalam menentukan kurikulum, kalender, dan program akademik.

Dari jiwa ini muncullah sebuah ungkapan “Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang Berdiri di Atas dan untuk Semua Golongan.” Semua penghuni Al-Ikhlas Taliwang bebas memilih golongan, partai dan sebagainya, selama tidak bertentangan dengan prinsip keimanan dan keislaman.

Andaikata guru-guru terdiri dari orang-orang simpati atau anggota Muhammadiyah, murid-muridnya terdiri dari anak keluarga Muhammadiyah, Al-Ikhlas Taliwang tidak boleh dijadikan Pondok Muhammadiyah. Demikian juga, andaikan guru-gurunya terdiri dari orang-orang yang simpati atau anggota NU, murid-muridnya terdiri dari anak keluarga NU, Al-Ikhlas Taliwang juga tidak boleh dijadikan Pondok NU. Demikian pula kebebasan dalam memilih partai, klub olahraga, dan lain sebagainya.

Jiwa yang menguasai suasana kehidupan Pondok Pesantren itulah yang kemudian dibawa oleh santri sebagai bekal pokok dalam kehidupan di dalam masyarakat. Dan jiwa Pondok Pesantren inilah yang harus senantiasa dihidupkan, dipelihara dan dikembangkan sebaik-baiknya.


Tag: panca jiwa