Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

Nurma
15 Dec

Nurma

Cerita tentang bagaimana awal sebelum pondok ini didirikan, dialog antara Ummi Nur dan Buya Zul, dikutip dari buku "My Every Little Step" (Lintang Sugianto)



Malam itu, aku duduk berdampingan dengan Nurma, menghadap ke arah    jendela yang terbuka. Dulu, aku memiliki kebiasaan menatap langit      malam, sebelum tidur, bersama        adik-adikku. Sekarang bersama Nurma, aku merasa menjadi   seorang pria yang memiliki malam-malam yang berbeda.

“Bintang-bintang itu tetap disitu,” bisikku sambil menatap langit malam, Mereka tetap berkelip dengan formasi yang sama, seperti dulu, dan seolah menungguku disitu”.

Aku tak dengar suara apapun dari Nurma. Ia memang pendiam, namun pandangannya menjurus ke arah langit. Ia memang pemalu. Aku memandang  wajahnya yang tertimpa cahaya bintang. Tangannya kugenggam dan tiba-tiba saja, aku mengatakan padanya bahwa aku ingin membuka Pondok Pesantren. Ia terkejut, tapi matanya berbinar. 

“Dimana?”, tanyanya.“Disini…”, jawabku“Di rumah ini?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk, “Nurma, dengarkan Abang”, kataku sambil memutar bahunya agar ia menghadap ke arahku, “Abang akan mewakafkan diri Abang agar Pondok Pesantren ini terwujud”.

Nurma diam, matanya menatap lurus kearahku, lalu iya menggelengkan kepalanya. Ia sedang memberitahuku dengan isyarat yang kukenali bahwa ia tak mengerti.

“ Begini, sebelum pondok pesantren ini ada, abang tetap berdagang beras, sambil berdakwah keliling kampung di seluruh Sumbawa. Nurma menjaga toko, mau?”.

“Toko?”“Iya. Kita menjual semua kebutuhan pokok rumah tangga, setuju?”“Pondok Pesantrennya?”, tanyanya.“Abang akan mengumpulkan uang dari berdagang”, jawabku sambil menatap kembali kearah bintang, “Kemudian kita buat Pondok Pesantren itu”

“Jelaskan ke Nurma, apa maksudnya Abang mewakafkan diri?.”

Aku memandangnya sangat dekat, sementara tanganku memasukkan anak rambutnya kedalam kerudungnya, “Abang menyerahkan diri Abang sepenuhnya kepada Allah”, kataku, “hanya untuknya”. 

Nurma diam. Aku juga diam. Kami sama-sama memandang bintang di langit gelap.

“Nurma tahu ngengat?”, tanyaku, memecah keheningan.“Tahu…” 

“Abang seperti binatang kecil itu yang merindukan cahaya lilin”.“Tapi dia hidupnya hanya sehari”.“Setelah bertemu cahaya lilin itu, dia mati kan ?”.Nurma mengangguk 

“ Apa artinya hidup sehari atau jutaan tahun, jika tidak berada dijalanNya,     berjuang untuk ke-Esa-anNya, Juga        tidak merasakan kehidupanNya”, Kataku, “seperti ngengat itu, iya tak        peduli akan mati atau hidup, yang mereka inginkan adalah bertemu cahaya”.

Ia tersenyum, kemudian menunduk memandang tangannya yang menggenggam erat tanganku. Lalu, “Aku masih boleh menjahit?”, tanyanya, sambil memandang kearahku.

Aku mengangguk “Abang berdakwah dapat uang?”“Tidak!”, jawabku tegas, “Abang mencari uang dari berdagang beras, menjadi guru di sekolah, membuka kursus dan lainnya”.

Nurma memandangku sesaat, kemudia ia memelukku, sambil ia bisikkan, “Aku berjanji selalu bersama Abang…” 

“Apapun itu?”, tanyaku.“Apapun itu…” jawabnya.Malam itu, bintang berkedip-kedip hingga pagi.

 

 



Tag: