Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

  • Home
  • Post
  • MOTO PONDOK PESANTREN AL-IKHLAS TALIWANG
MOTO PONDOK PESANTREN AL-IKHLAS TALIWANG
15 Dec

MOTO PONDOK PESANTREN AL-IKHLAS TALIWANG

Pendidikan di Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang diarahkan pada pembentukan pribadi mukmin-muslim yang beriman teguh, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Lima serangkai konsep inilah yang disebut moto Al-Ikhlas Taliwang.

  1. Beriman Teguh

Keimanan merupakan inti dari agama, dan inti dari segala sesuatu yang ada di pondok ini. Panca Jiwa di atas dan moto pondok yang lainnya tidak akan berarti tanpa adanya moto pondok yang pertama ini. Seluruh ruh dan aktifitas kegiatan dalam pondok harus didasari oleh keimanan yang kuat, hal itulah yang menjadi kunci keberhasilan dunia-akhirat baik bagi kyai, guru, santri, maupun bagi pondoknya. Keimanan dan ketakwaan inilah yang akan menyetir segala aktifitas dalam pondok ini. Seseorang tidak mungkin berbuat dosa/maksiat ketika berada dalam keimanan dan ketakwaan, sebagaimana tidak mungkin seseorang yang beriman dan bertakwa berbuat maksiat. Dengan kata lain seseorang yang bermaksiat, tidak lain karena dia meninggalkan keimanan dan ketakwaannya. Keimanan seseorang akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan.


  1. Berakhlak Mulia

Seorang yang dilandasi oleh keimanan yang teguh, akan tergambarkan dengan akhlaknya yang mulia. Pola pikir, sikap, dan tingkah lakunya akan menggambarkannya sebagai seorang muslim yang haqiqi. Fungsi akhlak mulia dalam kehidupan adalah sebagai buah dari tujuan diciptakannya manusia, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Hal itu karena akhlak mulia merupakan buah dari aktivitas ibadah kepada Allah SWT. Tanpa buah-yakni akhlak mulia-ini, ibadah hanya merupakan upacara dan ritual tanpa makna.

Berakhlak mulia merupakan landasan yang ditanamkan oleh pondok kepada seluruh santrinya. Ini merupakan inti dan tujuan utama dari seluruh proses pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan pesantren. Seluruh kegiatan di pondok harus mengandung unsur pendidikan akhlak mulia ini.

Kyai, guru-guru, dan pengurus-pengurus senantiasa memberikan contoh dalam berakhlak mulia. Dalam setiap momentum kegiatan dan pengarahan selalu diberikan perhatian dalam penjagaan akhlak. Bahkan sebelum santri liburan pun diberikan pengarahan tentang akhlak yang mulia. Baik akhlak kepada Allah SWT maupun akhlak kepada sesama makhluk-Nya.

  1. Berbadan Sehat

Pondok adalah lembaga kaderisasi pemimpin. Seorang pemimpin haruslah sehat jasmani, di samping tentu saja sehat rohani. Dengan tubuh yang sehat seorang akan dapat menjalankan tugas, peran, dan fungsinya dengan baik. Ingat moto “al-aqlu al-Salīm fī al-jismi al-Salīm” (akal yang sehat terletak pada badan yang sehat). Artinya, dengan badan sehat, para santri akan dapat menjalankan tugas-tugasnya dalam belajar dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan ini dilakukan melalui berbagai kegiatan olahraga, dengan mendirikan klub-klub olahraga, sekaligus untuk belajar berorganisasi dalam bidang olahraga. Karena pentingnya kesehatan tubuh ini, santri diwajibkan berolahraga rutin, sesuai jadwal yang ditetapkan.


  1. Berpengetahuan Luas

Para santri dibekali dengan berbagai pengetahuan untuk menjadi bekal hidup mereka. Dengan berbekal pengetahuan yang luas seseorang akan menjadi lebih arif dalam bersikap. Tetapi harus tetap diperhatikan bahwa berpengetahuan luas itu tidak boleh lepas dari berakhlak mulia.

Berpengetahuan luas, tak lain adalah tidak berpikir dikotomis. Artinya, dalam hal kurikulum, misalnya, tanpa harus merinci apakah itu ilmu agama atau ilmu umum. Bagi Al-Ikhlas Taliwang porsi pendidikan-pengajarannya sama saja, 100% agama 100% umum, yakni sebagai prasyarat untuk dapat melakukan pemikiran antisipatif ke depan. Dengan moto ini, santri juga tidak hanya diajari pengetahuan, lebih dari itu juga diajari aspek metodologi dan praktiknya secara kritis-rasional, guna membuka gudang pengetahuan itu sendiri.

Dengan moto ini, seorang santri akan bebas berpikir, menentukan masa depannya dalam berkiprah di masyarakat.


  1. Berpikiran Bebas

Poin kebebasan kembali disebut dalam moto setelah disebutkan dalam Panca Jiwa. Berpikiran bebas berarti memiliki sikap terbuka dan bertanggung jawab dalam menghadapi persoalan apapun. Tetapi bebas di sini bukanlah bebas sebebas-bebasnya sehingga menjadi liberal. Kebebasan merupakan lambang kedewasaan dan kematangan. Seorang santri bebas untuk memilih lapangan perjuangannya di masyarakat. Karena itu, moto ini merupakan fase terakhir yang baru bisa dinikmati jika sudah dilandasi oleh iman teguh, akhlak mulia dan pengetahuan luas, dimana semuanya tidak keluar dari prinsip-prinsip ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah.