Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

  • Home
  • Post
  • MENGAPA PESANTREN SEBAGAI PILIHAN?
MENGAPA PESANTREN SEBAGAI PILIHAN?
15 Dec

MENGAPA PESANTREN SEBAGAI PILIHAN?

Terlepas dari anggapan bahwa pesantren adalah sarang teroris, santri adalah pelajar kelas dua atau bahkan kelas tiga (kelas satu adalah mereka yang sekolah di Sekolah Umum Negeri, kelas duanya diisi oleh merka yang sekolah di Sekolah Umum Swasta), namun pada kenyataannya proses pendidikan dan pengajaran yang terdapat di dalamnya jauh lebih mulia dari yang dikira. Bahkan pondok pesantren dewasa ini telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat pada umumnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang dapat memberikan pondasi yang kokoh terhadap anak didiknya sebelum berkiprah di masyarakat.Terbukti dengan semakin antusiasnya masyarakat dalam memasukkan anaknya atau keluarganya ke pondok pesantren, baik di daerah Jawa maupun di luar jawa.

Hal di atas bukanlah karena tanpa sebab. Pada era globalisasi, kini kehidupan bermasyarakat sudah banyak tercemar dan terpengaruhi oleh kebudayaan asing yang berasal dari peradaban Barat. Kebudayaan tersebut bersifat memaksa seolah-olah merupakan kebudayaan dan pola hidup yang terbaik untuk ummat manusia, sehingga dapat diadopsi dan diterapkan di mana saja, oleh siapa saja. Tidak ada lagi perbedaan agama, ataupun budaya lokal karena dianggap sebagai penyekat dan penghambat kemajuan. Seolah-olah ingin mengatakan “jika ingin maju ikuti Barat”. Ungkapan tersebut tentu menyesatkan dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Semua lini kehidupan, kini susah untuk dihindari dari pengaruh dominasi Peradaban Barat yang membudaya dan mendarah daging pada kehidupan masyarakat pada umumnya. Mulai dari makanan, hiburan, mode pakaian, hingga mode rambut bahkan pemikiran. Contoh gaya rambut misalnya, dalam hidungan menit saja, gaya rambut artis yang berada di Amerika sudah ada yang menirunya oleh pemuda Indonesia. Hal tersebut pada akhirnya membuat sebagian pemuda-pemuda generasi harapan justru menjauhkan diri dari nilai-nilai Islami karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Kebanyakan orientasi hidup kini sebatas pada kehidupan di dunia, tidak lagi apa yang ada setelah kehidupan dunia.

Kini doktrin yang menjadikan dunia sebagai tujuan, sudah tersebar luas di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Murid-murid di lembaga pendidikan luar pesantren pada umumnya (kecuali yang tidak) sudah ikut terpengaruh. Pola pikir, sikap, dan tinggah laku mereka kini tidak lagi mencerminkan seorang Muslim haqīqi (sejati). Terjadi dikotomi dalam membelajaran Umum dan Agama, bahkan materi Agama hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Bagi mereka ilmu adalah untuk ilmu, bahayanya lagi jika belajar adalah untuk nilai, atau sekedar untuk ijazah.

Bagi yang prihatin dengan kondisi di atas, pondok pesantren dianggap sebagai benteng terakhir sebagai solusi. Hal tersebut bukan hanya sekedar kata-kata, melainkan realita. Sejarah menyatakan, bahwa pesantren didirikan sebagai benteng perlawanan atas penjajah dan penjajahan. Hingga kini pesantren masih memegang prinsip sebagai anti penjajah dan penjajahan, sehingga tidak mudah untuk mengadopsi segala macam bentuk jajahan dari luar dengan segala aspeknya, khususnya pemikiran yang berasal dari Barat seperti sekularisme, pluralisme agama, liberalisme pemikiran, relativisme, hedonisme, demokrasi dan lain sebagainya.

Lebih lanjut, alasan mengapa sistem pendidikan pondok pesantren menjadi pilihan untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut, antara lain karena pondok pesantren adalah sistem pendidikan berasrama di mana tri pusat pendidikan menjadi satu kesatuan yang terpadu. Sekolah, keluarga, dan masyarakat berada dalam satu lingkungan sehingga lebih memungkinkan dalam menciptaan suasan yang kondusif, yang terkait dengan peran ketiga pusat pendidikan tersebut, dalam mencapai tujuan pendidikan.

Di samping itu pondok pesantren adalah sebuah masyarakat mini yang terdiri dari santri, guru, dan pengasuh/kyai. Ini adalah sebuah masyarakat kecil (a mini society) yang sesungguhnya. Dalam tradisi pesantren, para santri merupakan subjek dari proses pendidikan, mereka mengatur kehidupan mereka sendiri (self government) melalui berbagai aktifitas, kreatifitas, dan interaksi sosial yang sangat penting artinya bagi pendidikan mereka.

Pondok pesantren juga merupakan lembaga pendidikan yang berasal dari, dikelola oleh, dan berkiprah untuk masyarakat, sehingga orientasi pendidikan pesantren adalah kemasyarakatan. Lingkungan pesantren diciptakan untuk mendidik santri agar dapat menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bermanfaat. Pendidikan ini menjadikan alumni pesantren tidak canggung untuk terjun dan berjuang ke masyarakat, sehingga, dalam bidang pekerjaan misalnya, dapat dikatakan tidak ada istilah nganggur (nunggu pekerjaan) bagi tamatan pesantren.

Bagi pondok pesantren pendidikan lebih penting daripada pengajaran. Pendidikan pesantren lebih mengutamakan pembentukan mental karakter yang didasarkan pada jiwa, falsafah hidup, dan nilai-nilai pesantren. Adapun pengetahuan yang diajarkan adalah sebagai tambahan dan kelengkapan. Pendidikan pesantren didasarkan pada prinsip-prinsip keikhlasan, kejuangan, pengorbanan, kesederhanaan, kemandirian, persaudaraan, dan kebebasan berpikir.

Hal lain dalam pondok pesantren adalah bahwa hubungan antara anggota masyarakat pesantren berlangsung dalam suasana ukhuwah Islamiyah yang bersumber pada tauhid dan prinsip-prinsip akhlak karimah. Suasana ini tertanam dalam jiwa santri dan menjadi bekal berharga untuk kehidupan di luar nantinya.

Dalam masyarakat pesantren, kyai atau pimpinan pesantren selain berfungsi sebagai central figure juga menjadi moral force bagi para santri dan seluruh penghuni pesantren. Hal ini adalah suatu kondisi yang mesti bagi dunia pendidikan, tetapi kenyataannya jarang didapati dalam sistem pendidikan selain pesantren.
Dari beberapa hal di atas tentunya menguatkan bahwa anggapan yang mengatakan bahwa pondok pesantren adalah sarang teroris, santri adalah pelajar kelas 3, merupakan anggapan yang salah. Hal di atas juga dapat menguatkan niat wali santri dalam memilih pondok pesantren sebagai lembaga tempat anak mereka didik.