Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

  • Home
  • Post
  • LIMA ELEMEN DASAR PESANTREN
LIMA ELEMEN DASAR PESANTREN
04 Mar

LIMA ELEMEN DASAR PESANTREN

Setidaknya dari pengertian umumnya pondok, yaitu; lembaga pendidikan agama Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya, pondok pesantren mencakupi beberapa elemen dasar, yaitu: (1) pondok pesantren harus berbentuk asrama (full residential Islamic boarding school), (2) fungsi kyai sebagai sentral figur (uswah hasanah) yang berperan sebagai guru (mu’allim), pendidik (murabbi), dan pembimbing (mursyid), (3) masjid sebagai pusat kegiatan, (4) materi yang diajarkan tidak terbatas kepada kitab kuning saja, dan (5) santri sebagai penuntut ilmu, kader pejuang dan pemimpin ummat.


Masing-masing elemen akan diuraikan secara singkat sebagai berikut:

  1. Pondok

Definisi singkat istilah ‘pondok’ adalah tempat sederhana yang merupakan tempat tinggal kyai bersama para santrinya. Kompleks sebuah pesantren memiliki gedung-gedung selain dari asrama santri dan rumah kyai, termasuk perumahan ustadz, gedung madrasah, lapangan olahraga, kantin, koperasi, lahan pertanian atau lahan peternakan. Kadang-kadang bangunan pondok didirikan sendiri oleh kyai bersama santrinya dan kadang-kadang oleh penduduk desa yang bekerja sama untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan.


Pondok, asrama bagi para santri, merupakan ciri khas tradisional pesantren, yang membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid yang berkembang di kebanyakan wilayah Islam di negara-negara lain. Bahkan sistem asrama ini pula yang membedakan pesantren dengan sistem pendidikan surau di daerah Minangkabau.

  1. Kyai

Kyai merupakan tokoh sentral dalam pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran. Karena itu kyai adalah salah satu unsur yang paling inti dalam kehidupan suatu pondok pesantren. Perkembangan, kelangsungan dan kemasyhuran suatu pondok pesantren banyak tergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, kharismatik dan wibawa serta keterampilan kyai yang bersangkutan dalam mengelola pesantrennya. Dalam hal ini, pribadi kyai sangat menentukan sebab ia adalah tokoh sentral dalam pesantren serta tokoh kunci yang menentukan corak kehidupan pesantren. Semua warga pesantren tunduk kepada kyai. Mereka berusaha keras melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya, serta menjaga agar jangan sampai melakukan hal-hal yang sekiranya tidak direstui kyai, sebaiknya mereka selalu berusaha melakukan hal-hal yang sekiranya direstui kyai.


Menurut asal-usulnya, perkataan kyai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda: 1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat; umpamanya, “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas yang ada di Keraton Yogyakarta; 2. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya; 3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Selain gelar kyai, ia juga sering disebut seorang alim (orang yang dalam pengetahuan Islamnya).

  1. Masjid

Hubungan antara pendidikan Islam dan masjid sangat erat dan dekat dalam tradisi Islam di seluruh dunia. Dulu kaum Muslimin selalu memanfaatkan masjid untuk tempat beribadah dan juga sebagai tempat lembaga pendidikan Islam. Karena dalam Islam masalah-masalah agama dan negara tidak terpisah, maka masjid sekaligus merupakan tempat kehidupan warga umum, artinya masjid bukan hanya tempat ibadah akan tetapi berfungsi juga sebagai pusat sumber kehidupan politik dan sosial. Dalam konteks pesantren, masjid adalah tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khutbah dan sembahyang Jum’at dan pengajian kitab-kitab Islam klasik.

  1. Kitab-kitab Islam Klasik

Pada masa lalu, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, terutama karangan-karangan ulama yang menganut faham Syafi’iyah, merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utama pengajaran ini ialah untuk mendidik calon-calon ulama. Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan menjadi delapan kelompok: Nahwu dan Sorf (morfologi), Fiqh, Usul Fiqh, Hadist, Tafsir, Tauhid, Tasawuf dan Etika, cabang-cabang lain seperti Tarikh dan Balaghah. Kitab-kitab tersebut dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu: kitab-kitab dasar, kitab-kitab tingkat menengah dan kitab-kitab besar.


Pada saat ini, banyak pesantren yang telah mengambil pengajaran pengetahuan umum sebagai suatu bagian yang penting dan tidak terpisahkan dengan yang pengetahuan agama dalam pendidikan pesantren, sehingga terbentuklah kurikulum yang menyatu (integrative).

  1. Santri

Santri merupakan elemen yang penting sekali dalam perkembangan sebuah pesantren, karena langkah pertama dalam tahap-tahap membangun pesantren adalah harus ada murid yang datang untuk belajar dari seorang alim. Kalau murid itu sudah menetap di rumah seorang alim, maka seorang alim itu bisa disebut kyai dan mulai membangun fasilitas yang lebih lengkap untuk pondoknya.


Menurut tradisi pesantren, biasanya santri terdiri dari dua kelompok, yaitu santri mukim dan santri kalong. Santri mukim yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pondok. Santri mukim yang paling lama tinggal di pondok tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggung jawab mengurus kepentingan pondok sehari-hari; mereka juga memikul tanggung jawab mengajar santri-santri muda tentang kitab-kitab dasar dan menengah. Santri kalong yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap pesantren. Untuk mengikuti pelajarannya di pesantren, mereka bolak-balik dari rumahnya sendiri.


Di masa lalu, pergi dan menetap ke sebuah pesantren yang jauh dan masyhur merupakan suatu keistimewaan bagi seorang santri yang penuh cita-cita. Ia harus memiliki keberanian yang cukup, penuh ambisi, dapat menekan perasaan rindu kepada keluarga maupun teman-teman sekampungnya, sebab setelah selesai pelajarannya di pesantren ia diharapkan menjadi seorang alim yang dapat mengajar kitab-kitab dan memimpin masyarakat dalam kegiatan keagamaan.