Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

  • Home
  • Post
  • AL-IKHLAS 1984
AL-IKHLAS 1984
15 Dec

AL-IKHLAS 1984

Di Menala, di rumah panggung adat Sumbawa, aku dan Norma bertempat tinggal. Kampung Menala, adalah       tempat tinggal bagi mimpi-mimpi Kakek dan Ayahku. Mereka hidup di masa lalu, di dalam salutan pil kedamaian yang membuat aku ada. Aku memiliki ikatan emosional dengan seluruh yang ada di kampung ini: udara, benda, adat bahkan bahasa, seperti aliran daerah yang mengalir di dalam tubuhku.

Seperti kakek dan Ayahku, aku pun mulai hidup di Menala dengan kerja keras. Aku meyakini, waktu sekarang adalah  hasil dari pusaran energi masa lalu. Dan hari ini,      adalah pusaran energy tercepat untuk menentukan       hasil, di waktu mendatang.

Aku memulai hidup di Taliwang, sebagai pedagang beras. Dari H. Junaidi AR – seorang saudagar beras yang memiliki gudang padi, selep dan mesin penggiling – aku mengambil beras satu truk kemudian aku menjual kembali ke pasar dan toko. Sementara itu, norma sudah menjadi penjahit. Ia banyak menerima jahitan baju dari orang-orang sekitar. Setiap hari, aku mendengar suara hentakan dan gesekan mesin jahit, layaknya konser musik yang tak kukenali genrenya.

Pada titik inilah kehidupanku mengalami salah satu       perubahan kearah jalan yang penuh karuniah. Artinya, jika aku menengok ke belakang dalam hidupku – dari sudut pandang yang telah mengalami perkembangan jiwa, maka aku dapat menyebutnya, sebagai way to        sincerity – cara untuk ketulusan. Terbentangnya            kejadian – kejadian menurut kebutuhan yang lebih        dalam yang aku sendiri tak menyadarinya. 

Keberuntungan atau anugerah itu menyediakan    tantangan bagi diriku. Pada waktu itu, semuanya tidak tampak seperti kesempatan besar. Aku hanya melakukan sesuatu yang sederhana, membuka toko sibuk membagi waktu: antara memberi les Bahasa Arab dan Inggris, mengajar anak – anak Menala   mengaji, serta berdakwah di sekeliling Sumbawa. Di jadwal yang sudah ditentukan, aku mengajar di SMA Swasta. Gajiku mengajar, Rp. 15.000,- setiap bulan, dan Norma sangat senang menerimanya.

Dari hasil berdagang beras, aku membeli sebidang tanah – 25 are – kujadikan        kolam ikan. Setiap saat, aku berbisik pada ikan – ikan itu, “Cepatlah besar, dan beranak pinaklah. Karena kalian akan kuwakafkan”. Entah mengapa kukatakan itu.

Mengubah lingkungan, adalah mimpiku. Itu artinya, aku mengubah diriku sendiri terlebih dahulu. Kepada pemuda – pemuda di Taliwang, aku memutuskan melakukan pendekatan yang berbeda. Melalui musik, aku mendekati kelompok pemuda untuk membuat Band Danasia. Band ini, menghibur setiap acara    perkawinan atau acara besar di Taliwang.

Aku berpikir, dengan aktivitas itu, mereka mengawali untuk mendapatkan uang, dan meninggalkan kebiasaan yang kurang menguntungkan bagi mereka. Sesungguhnya, ini bukan sesuatu yang aku pikirkan sebelumnya; ini adalah        sesuatu yang aku rasakan secara menda

lam yang harus ditindaklanjuti, bahwa mereka memerlukan sebuah media.

Kalian tahu, jika aku adalah sebuah      bangunan, maka Gontor adalah seluruh dindingnya. Namun, di masa itu, Buya Hamka semakin membayangi langkah dan pikiranku.

Di akhir Januari 1984, aku berjumpa dengan bapak Haji Mustofa, di Utan-Sumbawa. Ia adalah seorang Imam Masjid., dan bercerita, bahwa beberapa waktu lalu, ia dating ke Gontor untuk mengantarkan anaknya menjadi santri di sana. Namun, KH Imam Zarkasyi justru berkata, 

“Mengapa harus ke Gontor? Bukankah di Sumbawa bagian barat ada anak saya, Zulkifli?”.

Perjumpaanku dengan Bapak Haji Mustafa sangat memberi arti sendiri. Aku yakin, bahwa aku tak hanya sekedar menerima amanah dari KH Imam Zarkasyi, tetapi lebih mengarah kepada sebuah terguran agar aku segera       mewujudkan Pondok Pesantren itu.

Sepulang dari Utan, aku mengumpulkan Sembilan murid ngajiku, dan kukatakan kepada mereka, 

“aku ingin kalian tinggal disini, dan kalian tidak boleh pulang.”

Aku tidak menyangka, setelah aku katakan bahwa mereka mulai ‘Mondok’ di rumah Menala beberapa hari lagi, wajah mereka dipenuhi kegembiraan. “Bawa tikar, bantal, dan persiapan lainnya ya….”.

Maka pada hari Rabu, 1 Februari 1984, setelah sholat magrib berjamaah bersama sembilan muridku dan    orangtua mereka, aku mengikrarkan          lahirnya Pondok Pesantren Al-Ikhlas.    Detik itu, aku dapat membayangkan mereka adalah sembilan cahaya pertama bagi tumbuhnya cahaya – cahaya   berikutnya, di Pondok Pesantren                Al-Ikhlas.

Aku menamai Pondok Pesantren           Al-Ikhlas, karena aku ingin sebuah        keikhlasan menjadi landasan bagiku, bagi santri, bagi ustadz dan ustadzah, bagi masyarakat, bagi Taliwang, dan Sumbawa Barat dan sekitarnya, untuk beribadah didalam Islam. Al-Ikhlas telah memiliki puluhan santri dalam setahun, dan kebahagiaanku ditandai dengan hadirnya teman alumni Gontor berniat bergabung di Pondok Pesantren      Al-Ikhlas : KH Masruri (lulusan Saudi), KH Amir Ma’ruf Husein, Ustadz Jamil dan Almarhum Ustadz Ikhwan. Kami          bersatu untuk memberikan pendidikan, pencerahan, dan pelayanan tanpa pamrih. Semua itu mempengaruhiku dan menyebabkan perubahan drastis         dalam setiap aspek kehidupanku. Aku bergerak disiplin dan meluangkan waktu, energi dan kemampuan untuk tumbuhnya Al-Ikhlas. 

Aku mengawali Al-Ikhlas tumbuh dipenuhi kemudahan, kesederhanaan dan kasih sayang. Meskipun, sering    bertanya – bertanya, semua itu terlalu singkat aku dapatkan. Meskipun, terutama pada awalnya, terasa kesulitan datang menekan, namun kegembiraan lain muncul dari dalam hatiku, tatkala aku mampu untuk mengaktualisasikan bentuk kepedulianku kepada orang lain – orang yang aku kenal maupun kepada yang belum aku kenal.

Aku mulai memandang setiap kesulitan sebagai peluang untuk pelayanan, sebuah tantangan yang bisa memancing kecerdasan dan imajinasi yang lebih besar dari dalam diriku. Dengan tidak mengindahkan keuntungan pribadi atau gengsi dalam pekerjaanku, aku mendapati bahwa diriku telah   memenangkan kepercayaan dan bahkan cerita dari orang – orang Taliwang dan sekitarnya. Ini adalah kegembiraan tak mengenal batas. Di mana mana, aku   mulai melihat kemungkinan untuk memilih antara hidup untuk diri sendiri, atau hidup demi orang lain. Dan aku         telah memilih.


Dikutip dari buku "My Every Little Step" (Lintang Sugianto)

Tag: