Support : alikhlastaliwang@gmail.com

EMAIL

alikhlastaliwang@gmail.com

Call Now

+6281 1390 448

POST

  • Home
  • Post
  • 25 Desember 1985
25 Desember 1985
15 Dec

25 Desember 1985

Aku melihat rumah menala semakin kecil dan sempit, sehingga tak bisa lagi menampung santri yang terus berdatangan. Aku pun menitipkan puluhan santri putri di rumah H. L. Mustofa – kakak Ayahku – di Kampung Bosok. 

H. L. Mustofa adalah seorang yang memiliki pribadi yang sederhana. Di balik wajahnya teduh, ia mempunyai keinginan hidupnya adalah untuk kepentingan orang lain. Ia adalah seorang eksportir palawija dan rotan yang dikenal masyarakat sebagai sosok yang bijak , dan ahli bersedekah. Di masa itu, ia adalah pimilik Televisi pertama di Kota Taliwang.

Suatu hari, aku mengajak teman – teman dan H. Lalu Mustofa untuk mendatangi kolam ikan seluas 20 are di Kokar Maja Mura. Di sana, aku mengatakan kepada semua, bahwa aku mewakafkan tanah kolam itu untuk Al-Ikhlas. Tanpa kuduga, di hari itu pula, H. Lalu Mustofa mewakafkan tanah sebesar dua hektar yang terletak di reban – Taliwang – kepada Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Sesungguhnya tanah itu, telah diwariskan oleh Pi Selaki - yang telah meninggal di tahun 1983 – kepada keenam anaknya: H.L Mustofa, H.L Muhadli, H.L. Husein, H. L. Ahmad, dan H. Lala Fatimah. Namun, mereka telah sepakat untuk mewakafkannya. Tentu saja, aku menerima kebahagiaan ini dengan perasaan melayang. 

Apakah kalian tahu cara mengungkap       kebahagiaan? Aku memilih cara berjalan kaki tiga ribu langkah meninggalkan Kampung Menala, ke daerah                        Lingkungan Reban. Reban dalam bahasa Taliwang adalah lingkungan tanah yang menjadi pintunya air bagi persawahan. Memandang tanah itu dari dekat, mengingatkan aku, ketika Ayah meminta aku untuk menanam dua puluh tujuh bibit pohon kelapa, sebelum aku berangkat ke Gontor. Peristiwa itu sungguh sangat berkaitan dengan apa yang ku terima saat itu, dan aku meyakini, tanah ini memang dipersiapkan oleh Allah, bahkan sebelum aku berangkat ke Gontor. Maka aku memutuskan untuk merubah nama Reban menjadi, Robbany : segala sesuatu disandarkan kepada Allah.

Awalnya, tak banyak orang menyukai kehadiran pondok Pesantren Al-Ikhlas di Reban. Orang – orang Taliwang mengenal daerah reban sebagai daerah yang ‘menakutkan’. Tak satupun orang yang ingin bertempat tinggal di daerah itu. Sepanjang jalan menuju Reban, dipenuhi pohon beringin yang lebat dengan jalanan yang berbatu. Bila malam tiba, suasana tampak menyeramkan karena tak ada listrik di sana. Di sekitar daerah sepi itu, banyak orang – orang yang berjudi, orang mabok, bahkan seringkali terjadi perkelahian.

Banyak orang Taliwang di masa itu, menganggapku gila, karena aku berani bertempat tinggal, bahkan mendirikan Pondok Pesantren di daerah itu. Suatu hari, aku mendengar kabar, bahwa seorang jawara yang menduga aku memiliki ilmu kanoragan, ingin dating menemuiku dan mengajakku bertanding kekuatan fisik, aku tak memiliki ilmu itu.

Ia dating bersam H Samrah dan berniat memasuki Pondok Pesantren Al-Ikhlas melewati jembatan – yang terbuat dari pohon kelapa – yang menghubungkan jalan umum dengan area Pondok. Entah bagaimana awalnya, jembatan itu patah. Mereka masuk kedalam sungai. Dengan tubuh yang basah dan bermuka pucat, mereka hadir di depanku. Aku menyambut mereka dengan bahagia, karena tak banyak tamu datang – di masa itu – dari masyarakat terdekat. Aku benar-benar tak menyadari bahwa ia telah menyiapkan diri dengan beradu fisik denganku. Namun, aku terharu atas pengakuannya, patahnya jembatan pohon kelapa yang kuat itu, semakin membuatnya bersi keras bahwa aku memiliki ilmu yang tak tertandingi. Aku tertawa mendengar ia terus berbicara, dengan segala yang ia yakini.

Malam itu, aku menjamunya sebagai tamu istimewa. Setelah aku melihat sikapnya mulai tenang, aku mulai mengajaknya berbicara dan menjelaskan kepadanya, bahwa tak ada kekuatan ilmu apapun yang mampu menandingi kekeuatan Allah. Apakah yang kalian lakukan, jika menjumpai seseorang melepaskan baju kesombongannya? Aku justru menangis dan memeluknya.


 

 

Dikutip dari buku "My Every Little Step" (Lintang Sugianto) 

 

 

 

Tag: